Minggu, 30 Mei 2010

puisi " sahabat "

oleh: julkifli lubis

sahabat

sebenarnya aku itu bahagia
layaknya pagi menyapa embun sentosa

sebenarnya aku itu bahagia
layaknya siang yang cerah menoreh langit biru nan indah

sebenarnya aku itu bahagia
layaknya sinar senja
begitu kemuning tak terlukiskan oleh mata

sebenarnya aku itu bahagia
layaknya malam bertaburan bintang
seakan ku di bawanya terbang

dan sebenarnya aku itu sangat bahagia
memiliki sahabat yang selalu ada di setiap dawai nafasku
layaknya pagi, siang, senja, dan malam
yang selalu mengiringi langkah hidupku


***

Kamis, 27 Mei 2010

Anak Doyan Bohong, Kelak akan Jadi Orang Sukses

Merry Wahyuningsih - detikHealth


Toronto, Orangtua mungkin khawatir bila buah hatinya mulai tidak jujur alias berbohong. Tapi studi terbaru menemukan semakin awal seorang anak mulai berbohong, akan lebih mungkin ia menjadi orang yang sukses di kemudian hari.

Penelitian ini mungkin akan menuai banyak komentar miring dari para orangtua. Tapi peneliti telah menemukan bahwa kemampuan anak untuk berbohong saat masih berusia dua tahun menandakan otaknya berkembang pesat, dan berarti bahwa lebih mungkin untuk memiliki kehidupan yang sukses kelak.

Peneliti menemukan bahwa kebohongan lebih masuk akal. Semakin cepat anak mulai berbohong semakin cepat otaknya mengembangkan kecerdasan di tahun-tahun kemudian dan kemampuan berpikirnya pun akan lebih baik sehingga lebih cepat berjalan.

Hal ini juga berarti anak telah mengembangkan 'fungsi eksekutif', yaitu kemampuan menciptakan kebohongan untuk menjaga keyakinan di balik pikirannya.

"Orangtua tak perlu khawatir jika anak mereka berkata bohong," ujar Dr Kang Lee, direktur Institute of Child Study di Toronto Universit, yang melakukan studi ini, seperti dilansir dari Telegraph, Senin (17/5/2010).

Menurut Dr Lee, hampir semua anak berbohong. Anak yang memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik akan berbohong lebih baik, karena anak tersebut dapat menutupi jejaknya.

Berbohong melibatkan beberapa proses otak, seperti mengintegrasikan sumber informasi dan memanipulasi data untuk keuntungannya.

Hal ini terkait dengan perkembangan daerah otak yang memungkinkan 'fungsi eksekutif' dan penggunaan berpikir tingkat tinggi serta penalaran.

Dalam penelitiannya, Dr Lee mempelajari 1.200 anak usia 2-16 tahun.

Mayoritas anak-anak tersebut berbohong, tetapi anak-anak dengan kemampuan kognitif lebih baik akan menjadi pembohong yang lebih baik pula.

Persentase berbohong pada anak adalah:

  1. Pada usia 2 tahun, 20 persen anak-anak akan berbohong.
  2. Presentase akan meningkat sampai 50 persen pada anak usia 3 tahun
  3. Hampir 90 persen pada usia 4 tahun.
  4. Usia yang paling cerdik adalah 12 tahun, yang mana hampir setiap anak berbohong.
  5. Kecenderungan berbohong akan menurun menjadi 70 persen pada saat anak berusia 16 tahun.

Mendekati kedewasaan, remaja atau dewasa muda akan belajar menggunakan 'kebohongan putih' yang tidak berbahaya, untuk menghindari menyakiti perasaan orang lain.

Peneliti mengatakan bahwa tak ada hubungan antara kebohongan yang dilakukan pada masa kanak-kanak dengan kecenderungan orang berbuat curang dalam ujian atau menjadi penipu di kemudian hari.

"Orangtua yang menemukan anaknya berbohong, tidak boleh memperlakukan anak dengan buruk atau kasar, tetapi harus dijadikan sebagai 'momen mendidik'", ujar Dr Lee.

Dr Lee menuturkan, orangtua tidak boleh memukul atau berteriak kepada anak, tetapi harus memberitahu dengan lembut dan sabar tentang pentingnya kejujuran dan negatif dari perilaku berbohong.

Pada saat usia 8 tahun, peluang anak untuk berbohong akan semakin kecil dan jarang terjadi.

Yakinlah Anda Bisa

belajar berjalan

Ingatlah ketika Anda masih kecil, dan mencoba belajar berjalan. saya yakin anda mengalami seperti ini:

Pertama Anda harus belajar untuk berdiri: sebuah proses yang melibatkan seluruh tubuh, jatuh lalu kembali berdiri. Anda kadang tertawa serta tersenyum, tapi dilain waktu anda menangis dan meringis karena sakit. Entah, seperti ada tekad dan keyakinan dalam diri Anda bahwa Anda akan berhasil, apa pun dan bagaimanapun. Anda punya motivasi dalam diri Anda

Setelah banyak berlatih akhirnya Anda mengerti bagaimana keseimbangan diri Anda, sebuah persyaratan untuk kejenjang berikutnya. Anda menikmatinya dan seolah-olah punya kekuatan baru, punya motivasi baru. Anda akan berdiri dimana Anda suka – di tempat Anda, di sofa, di pangkuan ibu Anda, Bapak anda, atau pun seseorang. Itu adalah waktu yang menggembirakan – Anda melakukannya! Anda dapat mengontrol diri Anda. Anda tersenyum dan tertawa lucu, puas akan keberhasilan Anda. Sekarang – langkah berikutnya – berjalan. Anda melihat orang lain melakukannya – ini keliatannya tidak terlalu sulit – hanya memindahkan kaki Anda saat Anda berdiri, kan?

Salah – ternyata lebih kompleks daripada yang Anda bayangkan. Anda berurusan dengan rasa frustasi. Tapi Anda terus mencoba, mencoba lagi dan mencoba lagi dan lagi sampai Anda tahu bagaimana berjalan. Anda selalu ingin kedua tangan anda diberi pegangan saat berjalan.

Jika orang melihat Anda berjalan, mereka akan bertepuk tangan, mereka tertawa, mereka akan memberi semangat, “Ya Tuhan, lihatlah apa yang dia lakukan”. “Oh anakku sudah bisa berdiri”. “pandainya anakku, pintarnya anakku” dan lain-lain. Dorongan ini memicu Anda; dorongan itu menambah rasa percaya diri Anda. Dorongan itu memotivasi Anda

Namun meski begitu, Andapun mencoba berjalan saat tak ada yang melihat Anda, saat tak ada yang bersorak-sorai? Setiap peluang ada, Anda berlatih untuk berjalan. Anda tidak bisa menunggu seseorang untuk memotivasi Anda untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Anda belajar bagaimana untuk memotivasi diri sendiri.

Jika kita bisa mengingat hal ini tentang diri kita di hari ini.

Ingat bahwa kita bisa melakukan apapun yang kita pikiran. Kita mampu mengatur jika kita mau dan bersedia melewati proses, seperti ketika kita belajar berdiri, seperti ketika kita belajar berjalan. Kita tidak perlu menunggu orang lain untuk memotivasi kita, kita perlu memotivasi diri kita sendiri.

Jika Anda sudah lupa bagaimana melakukan hal ini, atau merasa seperti beku, kaku dan gamang. Maka Anda membutuhkan motivasi, ambillah kembali perjalanan singkat dalam hidup Anda yang telah lewat – Lihatlah prestasi Anda, tidak peduli prestasi besar atau prestasi kecil – atau saat-saat dimana Anda bertemu dengan tantangan dan menemukan cara untuk berhasil. Ulanglah keberhasilan itu saat ini, saat anda menghadapi permasalahan yang sedang anda hadapi.

Fokus pada semua hal yang Anda pikir Anda tidak bisa lakukan, kemudian lakukanlah. Lihatlah buah hati anda. Mereka tidak pernah menyerah. Dan mereka yakin serta percaya terhadap anda, bahwa anda mampu dan bisa. Mereka percaya di dalam semua kehidupan Anda!

Sekarang Anda harus percaya pada diri Anda! Yakinkan pada hati Anda Bahwa Anda pasti bisa.

“Ingat, hari ini adalah hari terbaik dalam hidup Anda, milikilah masa depan yang indah, dengan membuat perubahan hari ini!

Marlene – Resensi.net

Persahabatan

persahabatan

Mencari persahabatan itu seperti kita memasukkan benang dalam lubang jarum…

Sulitnya mencari seorang sahabat itu bisa digambarkan ketika kita berusaha memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Ada saja halangan atau kendala saat kita berusaha memasukkan benang dalam jarum, ada angin, mata kita yang kurang fokus, tempat yang kurang terang dan lain-lain.

Namun setelah kita berhasil melawan kendala yang ada, akhirnya benang bisa masuk ke dalam jarum, itulah saat-saat yang menggambarkan bahwa kita telah berhasil mendapatkan seorang sahabat. Setelah jarum dan benang telah bersatu, tibalah saatnya kita merajut..dalam hal ini kita sebagai jarum dan sahabat kita sebagai benang, bersama-sama merajut peristiwa-peristiwa manis dan indah sehingga menjadi rajutan indah berupa kenangan terindah di hidup kita….

Itulah Sahabat, seseorang yang kita peroleh dari pengorbanan dalam kehidupan kita. Yang awalnya pahit namun berakhir manis ^^

Dikirim oleh :

Sartika Setiyowati

Guru dan Semangatnya

guru & semangatnya

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.

Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

***

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

http://www.resensi.net/guru-dan-semangatnya/2009/06/29/#more-528

Rabu, 26 Mei 2010

momet with labala

alhamdulilah di kampus aku mempunyai keluarga yang sangat menyenangkan.....

ini masih beberapa foto saya yang aku tampilkan... masih banyak foto foto kenangan ku yang lainnya bersama labala...

semoga tidak sampai di sini saja kenersamaan ku dengan labala
(lab. akuntansi lanjut A)


Tips Menghadapi Wawancara Kerja

1. Banyak membaca buku tentang interview
Pilih dan beli beberapa buku interview dan anda bisa membandingkan dari buku-buku tersebut pertanyaan yang sering muncul dan anda bisa membuat daftar pertanyaan itu dan berlatih menjawabnya

2. Istirahat yang cukup
Tidur yang cukup sebelum anda menjalani proses wawancara dan kalau bisa usahakan satu hari sebelum menjalani proses wawancara anda refreshing dan jangan lagi membaca buku-buku yang akan membuat anda semakin tidak rileks

3. Sarapan
Hal ini kadang sering dilupakan padahal sarapan akan memberikan kita energi untuk berpikir dan siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan sang interviewer

4. Ucapkan salam dan ketuklah pintu sebelum memasuki ruang wawancara

5. Jabat tangan dengan penuh keyakinan
Jabatlah tangan sang interviewer ketika anda sudah memasuki ruang wawancara,karena ini akan membuat sang interviewer merasakan semangat yang ada pada diri anda dan merasa yakin bahwa anda benar-benar menginginkan pekerjaan tersebut

6. Jawablah dengan tepat dan singkat
Jawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada anda dengan tepat dan singkat. Ini berarti tidak menyimpang dari permasalahan ataupun pertanyaan dan juga usahakan jawab dengan bahasa yang simple dan mudah di mengerti. Ini akan membuat sang interviewer tidak menggali lebih dalam lagi

7. Tatap mata sang interviewer
Ketika anda menjawab pertanyaan yang diberikan sang interviewer, tataplah mata sang interviewer dengan penuh keyakinan. Jangan pernah menunduk atau menunjukkan tingkah yang membuat anda terlihat gugup dan tidak percaya diri

7.Ucapkan terima kasih dan jabat tangan
Hal ini kadang sering terlewatkan. Apalagi karena kita sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepala kita bisa meledak. Jangan samapai anda melupakan ucapkan kata "terima kasih" dan jabatlah kembali tangan sang interviewer sebelum anda meninggalkan ruangan wawancara

8. Berdoa sebelum dan sesudah menjalani proses wawancara

Nah mudah-mudahan tips-tips di atas bisa di terapkan bagi temen-temen yang akan mengikuti proses wawancara kerja.. GOOD LUCK...!!!

http://anggasaputrablogs.blogspot.com/2010/05/tips-menghadapi-wawancara-kerja.html

Pengaruh kinerja perbankan

Pengaruh kinerja perbankan

Ditulis oleh 4ld1 di/pada Februari 27, 2010

Kondisi perekonomian yang semakin terbuka membuat persaingan dalam dunia perbankan semakin ketat. Tantangan di dunia perbankan akan semakin sulit dengan diterapkannya API (Arsitektur Perbankan Indonesia). Berdasarkan laporan keuangan perbankan di Indonesia, laba perbankan dari tahun 2000 sampai tahun 2004 terus mengalami peningkatan, tetapi pada tahun 2005 laba perbankan mengalami penurunan sebesar 23.56% dan NPL (kredit macet) mengalami peningkatan.

Informasi tentang tingkat kesehatan keuangan suatu bank dapat diketahui dari analisis rasio keuangan. Bank Indonesia sebagai pengawas dan pembina bank nasional telah menetapkan metode CAMEL (Capital, Assets, Management,Earnings, Liquidity) yang dapat menghitung tingkat kesehatan suatu bank. Hal ini dilakukan pemerintah agar bank tetap menjaga kehati-hatiannya dalam melaksanakan fungsinya. Implementasi CAMEL diharapkan dapat menuntut keterbukaan dari pihak bank terhadap debitur dan krediturnya dalam mengelola modal dan resiko yang ada.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, maka rumusan masalah yang akan dikaji adalah bagaimana tingkat kesehatan keuangan perbankan yang berstatus go public di Indonesia, bagaimana peta perbankan yang berstatus go public di Indonesia berdasarkan tingkat kesehatan keuangan, dan bagaimana kesiapan perbankan dalam menghadapi penerapan API (Arsitektur Perbankan Indonesia). Dari perumusan masalah yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan perbankan yang berstatus go public di Indonesia, mengetahui peta perbankan yang berstatus go public di Indonesia berdasarkan tingkat kesehatan keuangan, dan menganalisis kesiapan perbankan dalam menghadapi penerapan API.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menganalisis laporan keuangan perbankan yang telah berstatus go public selama tahun 2005 dan terdaftar di Bank Indonesia. Dari laporan keuangan yang didapatkan, selanjutnya dihitung rasio keuangan berdasarkan metode CAMEL. Pemetaan perbankan berdasarkan kinerja keuangan dilakukan untuk mengidentifikasi posisi kinerja keuangan bank yang diketahui dengan analisa Biplot. Analisis tingkat kesiapan perbankan dalam menghadapi penerapan API dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan data-data dan kondisi perbankan yang ada terhadap ketentuan API yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.

http://4ld1.wordpress.com/2010/02/27/pengaruh-kinerja-perbankan/

Pengertian Sekularisme

Pengertian Sekularisme

Ditulis oleh 4ld1 di/pada Maret 2, 2010

Istilah sekularisme bermakna “sesuatu yang bukan agama”. Ia berasal dari bahasa Latin saeculum yang berarti “masa” atau “generasi” dalam arti waktu temporal. Kata ini kemudian menjadi bermakna segala hal yang berhubungan dengan dunia ini, dan dibedakan dengan hal-hal yang berbau agama. Sedang dalam bahasa Prancis, kata laïcité juga bermakna sekularisme, sekalipun makna aslinya menunjuk kepada pengertian “masyarakat biasa”, yakni mereka yang bukan berasal dari kelompok Klerus atau pendeta.[3]

Dari hal ini, setidaknya para sejarawan mendefinisikan sifat atau batasan sekularisme dalam suatu masyarakat atau budaya sebagai sesuatu yang mengindikasikan “penempatan” agama dalam masyarakat atau budaya tersebut.[4] Sekalipun demikian, seperti halnya definisi-definisi mengenai persoalan yang ada di dunia ini, definisi sekularisme ini pun masih menimbulkan polemik, yakni menyangkut apakah sekular atau tidaknya dilihat dari otoritas yang berkuasa di sebuah negara? Ataukah dilihat dari nilai-nilai yang terkandung di negara tersebut? Apakah negara yang bercorak monarki-ketuhanan itu dianggap sebagai bukan negara sekular, sedang Amerika Serikat sebagai negara sekular? Apakah ideologi negara-negara yang tidak berlandaskan pada formalitas agama disebut sebagai sekular?


Karena itu, untuk memperjelas dan mempermudah persoalan itu, ada baiknya kita membedakan pengertian antara sekularisme sebagai sebuah konsep dan sebagai sebuah proses. Pembedaan ini perlu dilakukan untuk mempertegas perbedaan yang sangat jelas antara sekularisme dengan sekularisasi. Sebagai sebuah konsep, ia merupakan produk sejarah kemodernan atau modernisme yang mengedepankan gaya hidup (life-style) materialis, empirik, rasional dan obyektif. Sungguh, modernisme, khususnya yang terjadi di Barat, adalah suatu antroposentrisme yang hampir tidak terkekang. Bahkan Arnold Toynbee, seorang ahli sejarah yang terkenal, mengatakan bahwa modernitas dimulai menjelang akhir abad ke-15, ketika orang-orang Barat “berterima kasih tidak lagi kepada Tuhan namun kepada dirinya sendiri karena berhasil mengatasi kungkungan Kristen Abad Pertengahan”. Memang, istilah sekularisme muncul di bawah kebudayaan Barat, yakni sebagai paham yang mengagungkan keabadian duniawi dan menafikan kehidupan spiritual. Ia berkonotasi kuat pengagungan pola hidup zaman mutakhir ini sebagai “kebijakan final” umat manusia, perwujudan terakhir dari proses panjang sejarah pertumbuhan dan perkembangan peradaban. Karenanya, sekularisme sebagai “isme”, mendekati ketentuan sebuah ideologi tertutup, sam seperti modernisme, nasionalisme dan lain sebagainya. Namun kalau ditilik secara historis, kita bisa menegaskan di sini bahwa sekularisme merupakan sebuah keharusan sejarah bagi masyarakat Eropa. Sebab kemunculannya yang berkembang pesat di daratan Eropa sebenarnya tidak lepas dari pengalaman sejarah mereka yang traumatik pada masa kegelapan (Dark Age). Pada masa ini, daratan Eropa berada pada satu masa kegelapan tatkala persekongkolan raja dan pihak-pihak gereja terus memberangus terobosan-terobosan yang “agak” ilmiah yang ditemukan oleh roang-orang-orang besar seperti Galileo dan Copernikus.[5] Karenanya tidak mengherankan, kemunculan Renaisance (nahdlah), Äufklarung dan reformasi gereja selain sebagai keharusan sejarah, juga sebagai tonggak sejarah dalam memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pertumbuhan sekularisme di Barat.

Dari tonggak sejarah ini, kemudian Barat berhasil memisahkan hampir semua aspek kehidupan dan pemikiran dari organisasi-organisasi keagamaan dan kependetaan; peralihan kekuasaan politik dari arena keagamaan ke negara; dari hukum-hukum keagamaan ke sekular. Dengan demikian, secara otomatis Barat mengalihkan nilai-nilai hidup yang melulu selalu berorientasi pada nilai-nilai teologis, mitologi dan hal-hal yang berbau metafisik menuju kepada nilai-nilai hidup yang selalu berorientasi kepada materi-empirik-realitas-obyektif. Dalam konteks ini, maka sekularisme menjadi nilai, pengalaman hidup (lebenswelt) dan pandangan dunia (weltanschaung) yang bersifat tertutup sebagian besar masyarakat Barat.[6] Karena itu, ketika penolakan sebagian besar umat Islam terhadap sekularisme, maka yang dimaksudkan di sini adalah sekularisme sebagai sebuah ideologi modernisme yang berwawasan materialis, ateis, liberalis, gaya hidup kebarat-baratan (westernization) dana menolak segala bentuk kebanaran-kebanaran spiritual. Hal ini setidaknya pola berpikir sebagian besar umat Islam yang secara sistematis dapat diruntut sebagai berikut:
modernisme = westernisme = liberalisme = sekularisme = ateisme[7]


Sedangkan yang dimaksud dengan sekularisme sebagai proses adalah sekularisasi. Ia bermakna demitologisasi, desakralisasi, devaluasi dan demistifikasi. Menurut Robert N. Bellah, sekularisasi adalah sebuah “devaluasi radikal”, yakni penurunan nilai secara tegas dari derajatnya yang mengandung kesucian menjadi obyek yang mungkin hanya mengandung nilai-nilai praktis sehari-hari. Proses demitologisasi, desakralisasi, devaluasi dan sekularisasi terjadi secara besar-besaran pada zaman modern ini, yaitu zaman yang ditandai dengan peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau mau ditilik lebih jauh, sekularisasi sebagai sebuah proses sebenarnya bukan merupakan yang baru. Ia merupakan sebuah konsep pemikiran dan perilaku yang telah berjalan sejak dahulu kala. Hal ini paling tidak dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s., sekitar dua puluh abad sebelum masehi, tatkala melakukan demitologisasi terhadap konsep tujuh hari yang berasal dari bangsa-bangsa kuno di Mesopotamia dan Yunani.[8] Konsep hari-hari seperti Sunday (minggu berasal dari bahasa Spanyol dan Portugis Do-Minggos [Do adalah hari, Minggos artinya Tuhan], yang artinya sama yakni hari matahari), Monday (hari bulan, hari senin) mengalami demitologisasi, dalam artian dilepaskan nilai-nilai sakralnya sebagai cara penentuan waktu memuja dewa-dewi langit yang tujuh.[9] Karena itu, seperti modernisasi—bukan modernisme—yang ditandai oleh kreativitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya, maka sekularisasi juga sebagai cara pandang masyarakat dalam memahami dan menghayati segala persoalan hidup “apa adanya” tanpa sangkut-paut dengan mitologi dan dongeng-dongeng (folklore). Karena keduanya merupakan kelanjutan logis sejarah dari masa sebelumnya,[10] maka kemunculan modernisasi dan sekularisasi merupakan sesuatu yang tak terhindarkan.

http://4ld1.wordpress.com/2010/03/02/pengertian-sekularisme/

Jumat, 21 Mei 2010

RENUNG

ditulis oleh jukifli


RENUNG


Aku sang hitam yang tak perah menjadi putih
Aku layaknya malam yang berlindung jerami sepi

Seperti pengemis surga...
Aku berjalan melupakan duka
Hingga tangisku pun 'tak berair mata

Hahahahaaaaa.....
Puas aku tertawa
Melihat si pengemis hitam
Dibawah jerami malam
Ternyata itu aku
Dan sejenak akupun terdiam.


.............................

artikel riset akuntansi

Seasoned Equity Offerings: Benarkah Underperformance Pasca Penawaran

Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi.
Nama & E-mail (Penulis): H. Sri Sulistyanto
Saya Dosen di Semarang
Tanggal: 30 September
Judul Artikel: Seasoned Equity Offerings: Benarkah Underperformance Pasca Penawaran

Artikel:

SEASONED EQUITY OFFERINGS: Benarkah Underperformance Setelah Penawaran?
HS. Sulistyanto
Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang (sulis@unika.ac.id)
Pratana P. Midiastuti
Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu


ABSTRACT
Penurunan kinerja (underperformance) memang cenderung mengikuti public offerings, termasuk seasoned equity offerings. Penurunan kinerja ini terjadi karena adanya upaya manajemen untuk memanipulasi kinerja yang dilaporkannya sebelum dan pada saat penawaran untuk memberikan kesan positif agar saham yang ditawarkannya direspon secara positif oleh pasar. Penelitian ini mencoba membuktikan dugaan tersebut. Dengan menggunakan data perusahaan yang melakukan SEO di BEJ selama kurun waktu 1994-1997 penelitian ini berhasil membuktikan hipotesis tersebut.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiga tahun sebelum penawaran, kinerja perusahaan, baik kinerja keuangan maupun kinerja saham, mengalami peningkatan. Sebaliknya terjadi penurunan kinerja selama tiga tahun setelah penawaran.

Latar Belakang
Seasoned equity offerings merupakan penawaran saham tambahan yang dilakukan perusahaan yang listed di pasar modal, diluar saham yang terlebih dahulu beredar di masyarakat melalui initial public offerings (IPO) (Megginson, 1997). Penawaran ini dilakukan karena perusahaan tersebut membutuhkan tambahan dana untuk membiayai kegiatan usaha atau membayar hutangnya yang jatuh tempo. Penjualan seasoned securities ini dapat dilakukan dengan, pertama, menjual hak (right) kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru dengan harga tertentu-disebut dengan rights issues-atau , kedua, dijual kepada setiap investor yang ingin membeli sekuritas baru tersebut melalui second offerings, third offerings dan seterusnya. Namun perusahaan dengan kepemilikan yang terkonsentrasi akan cenderung menggunakan right issue untuk menambah ekuitas barunya (Eckbo dan Masulis, 1992).

Walaupun investor mempunyai informasi yang cukup mengenai perusahaan yang melakukan SEO tersebut, asimetri informasi (information asimmetry) tetap terjadi dalam penawaran ini (Guo dan Mech, 2000). Kondisi inilah yang memotivasi manajemen untuk bersikap oportunistik untuk melakukan manipulasi terhadap kinerjanya, baik sebelum dan pada saat penawaran (Rangan, 1998; Teoh et al., 1998). Manipulasi yang dikenal dengan istilah earnings management ini akan mengakibatkan penurunan kinerja (underperformance) setelah penawaran (McLaughlin, 1996; Loughran dan Ritter, 1997; Teoh et al., 1998; Rangan, 1999). Alderson dan Betker (1997) dan Trail dan Vos (2001) menjelaskan penurunan kinerja perusahaan yang melakukan SEO dengan menggunakan kerangka windows of opportunity dan fenomena agency theory. Dalam windows of opportunity, penurunan kinerja bisa ini terjadi karena adanya upaya perusahaan untuk mengambil keuntungan jangka pendek pada saat pasar menilai perusahaan terlalu tinggi (overvalu e),yaitu dengan mengeluarkan saham tambahanya. Padahal dalam jangka panjang penilaian yang terlalu tinggi tersebut tidak bisa dipertahankan karena pasar melakukan koreksi terhadap"kesalahannya". Sementara dalam agency theory-yaitu teori yang berfokus pada masalah yang muncul antara principal-agent dalam pemisahan kepemilikan dan kontrol terhadap perusahaan (Morris, 1987)-manajemen perusahaan berusaha untuk memberikan sinyal positif kepada pasar tentang perusahaan yang dikelolanya. Sinyal positif ini diwujudkan dalam kinerja yang dilaporkannya. Namun sinyal positif ini dalam jangka panjang tidak bisa dipertahankan oleh manajemen, yang tercermin dari penurunan kinerja yang dilaporkan oleh perusahaan tersebut (Teoh et al., 1998). McLaughin et al. (1996) yang menggunakan berbagai ukuran rasio cash flow juga membuktikan bahwa kinerja cash flow perusahaan akan mengalami penurunan kinerja sekitar 20% selama tiga tahun setelah penawaran. Sementara Loughran dan Ritter (1997) menemukan perbedaan antara kinerja operasi lima tahun sebelum dan sesudah penawaran,yaitu adanya penurunan kinerja dalam jangka panjang. Anehnya, walau average return perusahaan yang melakukan SEO hanya 7% per tahun sedangkan perusahaan yang tidak melakukan penawaran rata-rata 15% per tahun, SEO tetap mendapat respon positif dari investor. Apalagi jika investor menangkap bahwa dana yang diperoleh dari hasil seasoned issue tersebut akan diinvestasikan pada kesempatan investasi yang menguntungkan.

Sementara Denis dan Sarin (1999) mencatat bahwa rendahnya kinerja pasca SEO diakibatkan karena pengukuran earnings yang dilakukan secara "tidak tepat" oleh manajemen. Kondisi ini mempengaruhi interpretasi investor terhadap kinerja perusahaan dan mengakibatkan investor mempunyai harapan profitabilitas masa depan perusahaan yang keliru. Atau dengan kata lain investor yang naif akan overoptimism dalam meramalkan earnings masa depan dan mengalami kekecewaan terhadap realisasinya pada periode pasca penawaran. Penurunan kinerja yang terjadi sebagai dampak pengukuran tersebut akan terjadi selama lima tahun setelah SEO. Shivakumar (2000) juga menunjukkan bahwa manajemen telah melakukan overstate terhadap earnings sebelum melakukan pengumuman SEO. Lebih lanjut penelitian tersebut menunjukkan bahwa investor sebenarnya sudah menduga adanya earnings management dan secara rasional berusaha melepaskan pengaruhnya pada saat pengumuman SEO. Jadi investor memiliki penilaian yang rendah terha dap earnings sebelum SEO dan secara rasional memberikan nilai yang rendah untuk perusahaan.

Di Indonesia penelitian mengenai penurunan kinerja yang terjadi setelah SEO dilakukan oleh Harto (2001) dan Candy (2002). Harto (2001) menyimpulkan bahwa perusahaan yang melakukan right issue mengalami penurunan kinerja operasi, keuangan, dan saham selama tiga tahun setelah penawaran. Sedangkan Candy (2002) dalam penelitian mengenai SEO menyimpulkan bahwa perusahaan akan mengalami penurunan kinerja operasi, sedangkan kinerja keuangan justru mengalami kenaikan. Penelitian tersebut memberi argumen bahwa kenaikan kinerja keuangan tersebut kemungkinan besar karena (1) dana yang diperoleh dari SEO digunakan untuk membayar hutang perusahaan yang jatuh tempo dan (2) naiknya nilai hutang jangka panjang karena kemungkinan hutang yang dimiliki perusahaan merupakan hutang dalam kurs asing yang tidak dilindungi dengan sistem hedging, sehingga melemahnya rupiah berakibat meningkatkan nilai hutang.

Perumusan Masalah
Berbeda dengan penelitian Harto (2001) yang hanya menggunakan sampel perusahaan yang melakukan right issue dan Candy (2002) yang tidak menguji kinerja saham perusahaan yang melakukan SEO, maka penelitian ini memperluas sampel yang digunakan dan melakukan pengujian terhadap kinerja saham. Penurunan kinerja pasca penawaran ini sebenarnya merupakan hal logis terjadi mengingat sikap oportunistik manajemen-karena kesuperiorannya dalam menguasai informasi dibandingkan pasar-dengan melakukan manipulasi terhadap kinerja. Manipulasi ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan informasi kinerja yang "lebih baik" agar pasar merespon penawaran saham tambahannya. Namun upaya manipulasi ini biasanya tidak bisa dilakukan dalam jangka panjang, sehingga perusahaan akan mengalami penurunan kinerja. Maka berdasarkan kondisi dan fakta tersebut, permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Apakah perusahaan yang melakukan SEO akan mengalami penurunan kinerja dalam jangka panjang ?

Tujuan Penelitian
Penurunan kinerja (underperformance) yang mengikuti penawaran saham, baik melalui IPO maupun SEO, sebenarnya merupakan hal yang logis mengingat menjelang dan saat penawaran baisanya perusahaan melakukan manipulasi terhadap kinerja. Manipulasi ini dilakukan dengan tujuan agar pasar memberikan respon yang positif terhadap penawaran tersebut. Manipulasi ini dilakukan dengan mengakui biaya sekarang (current cost) sebagai biaya masa depan (future cost) dan pendapatan masa depan sebagai pendapatan sekarang. Namun manipulasi ini sangat sulit untuk terus dilakukan pada periode setelah penawaran dan mengakibatkan penurunan kinerja pasca penawaran. Maka dari uraian tersebut penelitian ini bertujuan untuk mencari bukti empiris bahwa dalam jangka panjang perusahaan yang melakukan SEO akan mengalami penurunan kinerja.


Tinjauan Literatur dan Perumusan Hipotesis
Penurunan kinerja (underperformance) yang terjadi pasca penawaran saham ke publik (public offerings)-IPO maupun SEO-seolah telah menjadi pola baku (Denis, 1994; Loughran dan Ritter, 1997; Nassiripour et al., 1998; Rangan, 1998; Teoh, et al., 1998a; Espenlaub, 1999; Shivakumar, 2000). Bukti empiris menyimpulkan bahwa adanya reaksi pasar yang positif terhadap pengeluaran ekuitas baru. Pillote (1992) melaporkan bahwa pengaruh kesempatan bertumbuh akan menjadi faktor yang menimbulkan reaksi pasar yang positif. Cooney dan Kalay (1993) dengan menggunakan model yang didasarkan pada pecking order hypothesis melaporkan adanya reaksi pasar yang positif terhadap pengumuman SEO oleh perusahaan dengan pertumbuhan yang tinggi. Respon pasar yang berbeda tersebut tentu dipengaruh oleh alasan perusahaan dalam melakukan SEO, misalnya untuk memperkuat struktur modal, melakukan investasi yang membutuhkan dana besar, dan membiayai hutang yang telah jatuh tempo. Walau dengan alasan penawaran yang berbeda, SEO yang dilakukan perusahaan selalu akan diikuti dengan penurunan kinerja dalam jangka panjang.

Banyak penelitian yang menghubungkan penurunan kinerja tersebut dengan konsep windows of opportunity dan teori agensi (Traill dan Vos, 2001; Alderson dan Betker, 1997). Secara konseptual, dalam windows of opportunity manajemen berusaha memanfaatkan kesempatan pada saat mengetahui pasar telah menilai perusahaan secara overvalue. Sementara dalam teori agensi (agency theory), manajemen memanfaatkan asimetri informasi karena kesuperiorannya dalam menguasai informasi dibandingkan pasar. Sehingga dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merah bahwa turunnya kinerja perusahaan tersebut berkaitan dengan sikap oportunistik manajemen untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, meski dalam jangka panjang manajemen akan kehilangan kendali atas keunggulannya, yang terefleksi dalam penurunan kinerja.

Manipulasi terhadap kinerja menjelang SEO merupakan penjelasan yang logis mengapa perusahaan tidak mampu mempertahankan kinerjanya. Manajemen melakukan manipulasi dengan menggunakan discretionary accrual, yaitu kebijakan akuntansi yang memberikan keleluasan pada manajemen untuk menentukan jumlah transaksi akrual secara fleksibel. Manipulasi yang dikenal dengan istilah earnings management ini merupakan refleksi sikap oportunistik manajemen untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Sehingga peningkatan laba (income increasing) menjelang penawaran, memuncak pada saat penawaran dan menurun setelah penawaran mengindikasikan sikap oportunistik manajemen untuk menaikkan harga saham yang ditawarkannya (Teoh et al., 1998a, McLaughlin et al., 1996, Alderson dan Betker, 1997, Dubois dan Jeanneret, 2000, Kim dan Shin, 2001).

McLaughlin (1996) dalam penelitiannya menggunakan berbagai ukuran rasio cash flow untuk mengetahui apakah kinerja jangka panjang setelah SEO mengalami penurunan. Hasilnya mengindikasikan bahwa kinerja cash flow mengalami penurunan sekitar 20% selama tiga tahun setelah penawaran. Sementara Alderson dan Betker (1997) mengevaluasi kinerja operasi dan harga saham jangka panjang perusahaan yang melakukan SEO dengan menggunakan rasio market-to-book asset sebagai proksi nilai pertumbuhan oportunistik (value of growth opportunisties) dan menemukan bahwa kinerja operasi pasca penawaran dalam jangka panjang adalah jelek. Dalam penelitiannya Rangan (1998) melaporkan bahwa harga saham overvalue untuk sementara waktu yaitu pada saat penawaran dan selanjutnya akan "mengecewakan" yang ditunjukkan dengan penurunan harga saham pasca penawaran. Traill dan Vos (2001) melaporkan bahwa perusahaan yang melakukan SEO akan underperformance selama lima tahun setelah issue.

Penelitian Laughran dan Ritter (1997) menggunakan enam rasio keuangan untuk melihat kinerja keuangan sebelum dan lima tahun setelah SEO. Hasilnya menunjukkan rasio keuangan-khususnya rasio profit margin dan ROA-mengalami penurunan selama empat tahun setelah penawaran tersebut. Hasil tersebut mengindikasikan adanya upaya manajemen melakukan manipulasi sebelum melakukan penawaran agar kinerja perusahaan pada saat penawaran kelihatan bagus. Penelitian yang dilakukan oleh Teoh et al. (1998a) melaporkan bahwa discreationary accruals digunakan oleh perusahaan yang melakukan SEO pada periode sebelum issue, mencapai puncaknya pada saat issue, dan menurun pada periode-periode pasca issue. Selanjutnya penelitian tersebut membuktikan bahwa ada hubungan negatif antara discreationary current accruals sebelum issue dengan laba dan return saham pasca issue. Hubungan negatif dengan return saham ini terjadi setelah mengendalikan ukuran perusahaan, rasio book-to-market, capital expenditures pasca issue.

Sejalan dengan penurunan kinerja operasi, maka penurunan kinerja saham juga akan terjadi sebagai akibat dilakukannya manipulasi pada saat penawaran tersebut (Ritter, 1991; Dechow 1996;, Bowman dan Navissi, 1998). Kondisi tersebut terjadi karena harga saham berkorelasi dengan kinerja keuangan, sehingga penurunan kinerja keuangan akan membuat pasar melakukan koreksi harga saham yang overvalue tersebut. Chambers (1999) mencatat bahwa manipulasi yang dilakukan manajemen menyebabkan misallocation modal akan yang diinvestasikan. Pengalokasian yang tidak tepat ini mempunyai implikasi terhadap harga saham yang akan dinilai secara tidak tepat (mispricing). Hal tersebut terjadi karena pasar tidak mampu mendeteksi keberadaan dan besarnya laba yang dimanipulasi. Atau dengan kata lain pasar telah gagal untuk memahami implikasi penggunaan akrual tersebut (Beneish, 2001). Tetapi dalam jangka kegagalan investor dalam menilai perusahaan akan dikoreksi sehingga akan mengakibatkan turunnnya ha rga saham perusahaan bersangkutan. Maka dari uraian tersebut hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

H1: Perusahaan yang melakukan SEO akan mengalami penurunan kinerja keuangan setelah penawaran.

H2: Perusahaan yang melakukan SEO akan mengalami penurunan kinerja saham setelah penawaran.

Metodologi Penelitian

1. Sumber Data dan Sampel Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diambil dari laporan keuangan (annual report) dan harga saham penutupan bulanan perusahaan yang melakukan SEO periode tahun 1994-1997 di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Data dibutuhkan selama tiga tahun sebelum (1991-1993) dan tiga tahun sesudah SEO (1998-2000). Perusahaan yang masuk sebagai sampel dipilih dari perusahaan non-lembaga keuangan untuk mengantisipasi kemungkinan pengaruh regulasi tertentu yang dapat mempengaruhi variabel penelitian.

Tabel 1: Sampel Penelitian

Identifikasi Perusahaan Jumlah Perusahaan yang SEO tahun 1994-1997 43 Perusahaan lembaga keuangan (11) Data laporan keuangan tidak lengkap (4) Jumlah Sampel 28

Sumber: data diolah.
2. Definisi dan Pengukuran Variabel Penelitian Kinerja dalam penelitian ini diproksikan sebagai kinerja keuangan dan kinerja saham. Kinerja keuangan merefleksikan kinerja fundamental perusahaan dan akan diukur dengan menggunakan data fundamental perusahaan, yaitu data yang berasal dari laporan keuangan perusahaan. Sedangkan kinerja saham akan mengindikasikan kinerja pasar perusahaan dan akan diukur dengan menggunakan nilai pasar saham perusahaan yang beredar di pasar modal. § Kinerja keuangan, ada beberapa ukuran kinerja keuangan yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban keuangan jangka pendeknya pada saat jatuh tempo. Likuiditas dapat diukur dengan rasio lancar (current ratio-CR), yaitu aktiva lancar dibagi dengan hutang lancar.
2. Leverage, yang menunjukkan bagian modal non ekuitas yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Dengan kata lain, leverage menunjukkan proporsi aktiva perusahaan yang didanai oleh pihak selain pemegang saham (shareholder). Ukuran leverage yang akan digunakan adalah rasio hutang terhadap ekuitas/modal (debt to equity ratio-DER).
3. Profitabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Ukuran profitabilitas yang akan digunakan adalah net profit margin (NPM), yaitu net income dibagi dengan pendapatan (revenue). Rasio ini mengindikasikan berapa banyak net income yang dihasilkan dari setiap rupiah pendapatan (revenue). Ukuran lainnya adalah rasio tingkat kembalian atas aktiva (return on assets-ROA), yaitu net income dibagi dengan total aktiva (rata-rata). Rasio ini mengukur efisiensi penggunaan ekuitas pemegang saham biasa.
4. Perputaran (turnover), yang mengindikasikan efisiensi dalam penggunaan aktiva perusahaan. Ukuran perputaran yang akan digunaan adalah rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio-TAT), yaitu penjualan dibagi dengan total aktiva (rata-rata). § Kinerja saham, yaitu kinerja yang saham dapat diukur dengan beberapa cara, antara lain melalui tingkat pengembalian (return). Return dapat dihitung dengan rumus: Pt - Pt-1/Pt-1 , dimana Pt adalah harga saham pada periode t dan Pt-1 adalah harga saham periode sebelum t.

3. Metode Analisis Data
Analisis Deskriptif. Analisis deskripsi digunakan untuk mengetahui nilai-nilai statistik masing-masing variabel penelitian yang dipakai. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan pola yang terjadi selama periode pengamatan. Pola yang biasa terjadi dalam peristiwa public offerings adalah terjadinya peningkatan yang cenderung tajam menjelang penawaran, memuncak pada saat penawaran, dan akan menurun setelah penawaran tersebut. Penurunan kinerja dalam public offerings secara teoritis akan terjadi selama tiga-lima tahun setelah penawaran (Teoh et al., 1998a, McLaughlin et al., 1996, Alderson dan Betker, 1997, Dubois dan Jeanneret, 2000, Kim dan Shin, 2001). § Uji Statistik. Uji statistik digunakan untuk menentukan keputusan menerima atau menolak hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Pengujian statistik yang dilakukan adalah dengan menggunakan: uji beda sampel berpasangan (Paired-sample t-test). Uji beda terhadap kinerja sebelum dan sesudah SEO untuk mengetahui apakah kinerja sebelum penawaran lebih tinggi dibandingkan kinerja sesudah penawaran dan membuktikan terjadinya penurunan kinerja pasca penawaran saham tambahan tersebut.

Hasil dan Analisis

Seperti dalam penelitian Teoh et al. (1998), McLaughlin et al., (1996), Alderson dan Betker (1997), Loughran dan Ritter (1997), Rangan (1998), dan Kim dan Shin (2001) yang menggunakan periode waktu tiga tahun sebelum dan sesudah SEO, maka penelitian ini menggunakan periode yang sama. Sehingga penghitungan nilai statistik (mean dan median) variabel kinerja-yaitu current ratio (CR), debt equity ratio (DER), return on assets (ROA), total assets turnover ratio (TAT), dan net profit margin ratio (NPM)-dilakukan selama tujuh tahun, yaitu dimulai dari tiga tahun sebelum SEO (t-3 atau dari tahun 1991 sampai tahun 1993) sampai dengan tiga tahun setelah SEO (t+3 atau dari tahun 1998 sampai tahun 2000). Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel 2.

 
Tabel 2: 
Statistik Deskriptif Kinerja Keuangan 
Periode t-3 t-2 t-1 t t+1 t+2 t+3
CR
Mean 1.3714 1.4245 1.5576 2.3826 1.7558 1.6866 1.4630
Median 1.2625 1.3089 1.3469 1.5626 1.4731 1.3473 1.1200
ROA
Mean 2.0904 2.1384 2.2024 2.3836 1.6225 0.9406 -1.1969
Median 0.8650 0.9986 2.0250 2.9850 2.8250 2.1200 0.0850
TAT
Mean 198.23 199.92 214.19 243.35 187.93 186.01 164.94
Median 152.29 180.76 180.68 188.36 153.16 144.33 134.88
NPM
Mean 0.7914 0.1190 0.1311 0.3646 0.3036 0.3034 -31.114
Median 0.1350 0.1500 0.1530 0.1950 0.1750 0.1700 0.8000
DER
Mean 1.4539 1.3992 1.5987 2.1451 2.5981 3.9755 2.0921
Median 1.0831 1.2235 1.4350 1.4150 1.5350 1.6388 1.5850
Sumber: data diolah.
 

Tabel 2 menunjukkan nilai mean dan median CR, ROA, TAT, dan NPM memperlihatkan pola meningkat menjelang SEO, memuncak pada pada saat SEO, dan mengalami penurunan setelah penawaran. Hasil ini konsisten dengan penelitian Teoh et al. (1998), McLaughlin et al., (1996), Alderson dan Betker (1997), Loughran dan Ritter (1997), Rangan (1998), dan Kim dan Shin (2001) yang menyimpulkan terjadinya penurunan kinerja (underperformace) pasca penawaran. Pola meningkatnya kinerja operasi dan memuncak pada saat SEO mengindikasikan adanya upaya manajemen untuk memberikan sinyal positif kepada pasar. Tingginya kinerja keuangan ini diharapkan akan direspon secara positif oleh pasar dan meningkatkan nilai saham yang ditawarkan. Sedangkan penurunan kinerja pasca penawaranan mengindikasikan ketidakmampuan manajemen untuk melanjutkan manipulasi kinerjanya.

Berbeda dengan nilai mean variabel keuangan lainnya, nilai DER menunjukkan pola yang berbeda. Variabel DER menunjukkan pola yang cenderung selalu meningkat, bahkan setelah penawaran. Hasil ini konsisten dengan penelitan Candy (2002) yang mencatat bahwa semakin meningkatnya nilai variabel DER kemungkinan dipengaruhi oleh melemahnya nilai rupiah karena pengaruh krisis ekonomi di Indonesia, yang mengakibatkan hutang jangka panjang dalam mata uang asing yang tidak dilindungi dengan sistem hedging akan berlipat nilainya jika dihitung dalam rupiah.

 
Tabel 3: 
Statistik Deskriptif Kinerja Saham 
 
Periode t-3 t-2 t-1 t t+1 t+2 t+3
RETURN
Mean -0.0120 -0.0110 -0.0056 0.0012 -0.0062 -0.0360 -0.0390
Median -0.0030 -0.0062 0.0025 0.0108 -0.0023 -0.0210 -0.0230
Sumber: data diolah.
 

Tabel 3 merupakan statistik deskriptif kinerja saham selama periode pengamatan. Konsisten dengan penelitian Loughran dan Ritter (1997) yang menyimpulkan terjadinya peningkatan kinerja saham sebelum penawaran dan penurunan pasca penawaran, maka penelitian ini juga menunjukkan pola yang sama. Kondisi ini sesuai dengan konsep windows of opportunity, yaitu konsep yang membahas upaya manajemen yang memanfaatkan kesalahan pasar menilai perusahaan secara overvalue dengan melakukan penawaran saham tambahan. Walaupun akhirnya tetap akan terjadi penurunan kinerja saham, karena pasar melakukan koreksi terhadap kesalahannya. Dari tabel terlihat bahwa kinerja saham dari t-3 (-0.0120) meningkat dan memuncak pada periode t (0.0012). Kondisi ini mengindikasikan tawaran yang dilakukan perusahaan direspon secara positif oleh pasar. Sedangkan penurunan kinerja saham memang terjadi pasca penawaran,yaitu sejak periode t+1 (-0.0062) sampai dengan t+3 (-0,0390).

Pengujian selanjutnya akan menguji apakah nilai variabel kinerja sebelum penawaran memang benar-benar lebih besar dibandingkan setelah penawaran. Hasilnya ditunjukkan dalam Tabel 4.

 
Tabel 4: 
Uji Beda Kinerja Sebelum dan Sesudah SEO
 
CR ROA TAT NPM DER AR
p-value 0.018 0.019 0.011 0.014 0.164 0.018
t-value 0.791 -1.374 -1.234 -1.574 2.472 2.129
Sumber: data diolah.
 

Tabel 4 menunjukkan hasil uji beda variabel kinerja keuangan dan saham perusahaan yang menjadi sampel penelitian. Dari pengujian terlihat bahwa dari lima variabel kinerja, terbukti hanya empat variabel yang mempunyai nilai sebelum SEO lebih besar dibandingkan nilai sesudah SEO, yaitu variabel CR, ROA, TAT, dan NPM. Nilai p-value untuk CR (0.018), ROA (0.019), TAT (0.011), NPM (0.014) yang lebih kecil dari 0,05 membuktikan bahwa kinerja keuangan sebelum SEO lebih besar dibandingkan kinerja sesudah SEO. Hal ini membuktikan telah terjadinya penurunan kinerja pasca penawaran.

Nilai p-value untuk CR sebesar 0.018 mengindikasikan bahwa rata-rata CR sebelum penawaran lebih besar dibandingkan rata CR setelah penawaran. Kondisi ini menunjukkan terjadinya penurunan yang signifikan kinerja variabel CR pasca penawaran. Sejalan dengan dugaan awal yang menyatakan adanya penurunan kinerja pasca-SEO, maka variabel ROA memperkuat dugaan tersebut. Nilai p-value 0.019 mengindikasikan bahwa nilai mean ROA sebelum penawaran lebih besar dibandingkan rata-ratanya setelah penawaran, yang artinya telah terjadi penurunan rata-rata ROA yang cukup signifikan. Nilai p-value 0.011 mengindikasikan telah terjadi penurunan nilai TAT pasca penawaran. Demikian juga untuk variabel NPM (net profit margin ratio) yang mempunyai p-value sebesar 0.014 mengindikasikan telah terjadi penurunan nilai rata-rata NPM setelah penawaran dibandingkan kenaikan nilai rata-rata NPM sebelum penawaran. Namun berbeda halnya dengan keempat variabel kinerja di atas, variabel DER (debt equity ratio) ti dak menurun pasca SEO. Nilai p-value sebesar 0,164 (lebih besar dari pada 0,05) berarti nilai DER sesudah SEO lebih besar dibanding sebelum SEO. Walaupun terjadi kenaikan kinerja menjelang dan pada saat penawaran, namun kenaikan kinerja ini terus terjadi setelah SEO tersebut. Hal ini kemungkinan karena hutang perusahaan dalam mata uang asing tidak dilindungi dengan sistem hedging, sehingga menguatnya kurs dollar Amerika akibatnya krisis ekonomi mengakibatkan melonjaknya nilai hutang perusahaan (Candy, 2002).

Nilai p-value sebesar 0.018 (lebih kecil dari pada 0,05) variabel AR (abnormal return) mengindikasikan bahwa dugaan kinerja sebelum penawaran lebih besar daripada kinerja setelah penawaran. Besarnya kenaikan sebelum penawaran daripada penurunan setelah penawaran kemungkinan besar karena upaya manajemen mempengaruhi pasar cenderung berhasil. Walaupun setelah penawaran, ketika pasar menyadari kesalahannya segera melakukan koreksi yang mengakibatkan terjadinya penurunan kinerja saham perusahaan tersebut. Ini konsisten dengan penelitian Lougran dan Ritter (1997).

Kesimpulan
Jurang (gap) informasi yang ada diantara manajemen dan investor di pasar merupakan salah satu motivasi manajer melakukan manipulasi terhadap kinerja dengan menaikkan labanya (income increasing). Sikap oportunistik ini bertujuan untuk menaikkan harapan investor terhadap kinerja perusahaan dimasa depan dan menaikkan harga penawaran. Sikap oportunistik ini dinilai secara ekstrim sebagai sikap curang (fraud) manajemen yang diimplikasikan dalam laporan keungannya pada saat penawaran saham tambahannya tersebut. Keberhasilan dari sikap ini dinilai ketika manajemen berhasil menyesatkan investor dalam menilai saham yang ditawarkan tersebut. Walaupun pada periode pasca-SEO terbukti manajemen tidak mampu lagi melanjutkan sikap curangnya yang tercermin dari penurunan kinerja pasca penawaran.

Penelitian ini menemukan bukti bahwa perusahaan yang melakukan penawaran saham tambahan (seasoned equity offerings) mengalami penurunan pasca penawaran tersebut. Hal ini terbukti dari besarnya nilai mean variabel kinerja keuangan dan saham sebelum SEO dibandingkan setelah SEO. Kondisi ini mengindikasikan adanya upaya manajemen untuk memperbaiki kinerja yang dilaporkan dalam prospektus, dengan harapan penawaran saham tambahannya akan direspon secara positif oleh investor di pasar. Walaupun pada periode pasca penawaran penurunan kinerja (underperformance) akan dialami perusahaan sebagai bukti tidak bisa dilanjutkannya manipulasi tersebut tersebut. Penurunan kinerja ini merupakan cermin dari ketidakmampuan manajemen melanjutkan manipulasi yang dilakukan pada saat SEO. Bukti ini konsisten dengan beberapa penelitian manajemen laba disaat SEO terdahulu, misalnya Teoh et al. (1998), McLaughlin et al., (1996), Alderson dan Betker (1997), Loughran dan Ritter (1997), Rangan (1998), da n Kim dan Shin (2001).

Keterbatasan dan Implikasi
Penelitian ini bertujuan untuk mendukung hipotesis yang menyatakan terjadinya penurunan kinerja pasca panawaran. Dibaliknya ditemukannya bukti yang mendukung hipotesis tersebut ada keterbatasan dan kekurangan masih ada dalam penelitian ini, yaitu: dalam penelitian mengenai public offerings selalu menggunakan jumlah data yang cukup besar, baik untuk jumlah perusahaan sampel maupun waktu pengamatan yang mencakup periode yang panjang, seperti dalam penelitian Ritter (1991), Jain dan Kini (1994), dan Teoh et al. (1997; 1998a). Sedangkan penelitian ini hanya menggunakan 28 perusahaan dari 42 perusahaan yang melakukan SEO dalam kurun waktu 1994-1997. Keterbatasan ini disebabkan karena data keuangan perusahaan-perusahaan tersebut sulit diperoleh dalam periode yang cukup panjang. Sedangkan implikasi dari penelitian ini adalah memberikan bukti bahwa kinerja perusahaan yang tinggi menjelang dan pada saat SEO bukanlah mencerminkan kondisi fundamental perusahaan, namun hasil manipulasi yang dilakukan manajemen, sehingga investor disarankan tidak hanya mendasarkan diri kepada prospektus penawaran dalam membuat keputusan investasinya.

Daftar Pustaka
Alderson, Michael J., dan Brian L. Betker, "The Long Run Performance of Companies That Withdraw Seasoned Equity Offerings", Working paper, September 1997.

Allen, David E., dan Victor Soucik, "Performance of Seasoned Equity Offerings in a Risk Adjusted Environment", Working paper, 2001

Bayless, M., dan Chaplinsky, "Is There a Window of Opportunity for Seasoned Equity Issuance?", Journal of Finance, 1996.

Buhner, Thomas., dan Christoph Kasere, "External Financing and Economicies of Scale in Investment Banking-The Case of Seasoned Equity Offerings in Germany", Working paper, June 2000.

Candy, 2002, "Analisis Kinerja Perusahaan yang Melakukan Seasoned Equity Offerings: Studi Kasus di Bursa Efek Jakarta", Working paper.

Cooney, J., dan A. Kalay, "Positive Information from Equity Issue Announcements", Journal of Financial Economics, 1993.

Denis, David J., dan Atulya Sarin," Is the Market Surprised by Poor Earnings Realization Following Seasoned Equity Offerings", Working paper, Desember 1999.

Denis, David J., "Investment Opportunies and the Market Reaction to Equity Offerings", Journal of Financial and Quantitative Analysis, Vol. 29 No.2, 1994.

Dubois, Michel., dan Pierre Jeanneret, "The Long-Run Performance of Seasoned Equity Offerings With Rights", Working paper, Januari 2000

Eckbo, B.E., dan Masulis, "Adverse Selection and The Rights Offer Paradox", Journal of Financial Economics, 1992.

Espenlaub, Susanne, "Discussion of The Life Cycle of Initial Public Offering Firms", Journal of Business Finance & Accounting, 26 (9) & (10), Nov./Des. 1999.

Guo, Lin., dan Timothy S. Mech, "Conditional Event Study, Anticipation, and Asymmetric Information: The Case of Seasoned Equity Issues and Pre-issue Information Releases", Journal of Empirical Finance, 7, 2000.

Harto, Puji, "Analisis Kinerja Perusahaan yang Melakukan Right Issue di Indonesia", Simposium Nasional Akuntansi IV, 2001.

Jindra, Jan, "Seasoned Equity Offerings, Overvaluation and Timing", Working paper, Maret 2000.